Senin, 24 Maret 2014

Tugas2_Bahasa Indonesia2#



Artikel
TEMA : JAKARTA

BANJIR

Jakarta merupakan ibukota Republik Indonesia yang notabene pusat pemerintah dengan penduduk yang beraneka ragam suku. Tentunya tidak mudah untuk menata kota Jakarta. Dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah ini dapat menimbulkan suatu bentuk permasalahan bila peraturan-peraturan pemerintah tidak diperhatikan dengan baik. Salah satunya banjir yang baru-baru ini melanda di beberapa wilayah di Jakarta. Banjir pada hakekatnya hanyalah salah satu output dari pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) yang tidak tepat. Bencana banjir harus terulang kembali awal tahun 2014 meski sebelumnya kejadian banjir yang cukup berat juga pernah dialami oleh DKI Jakarta pada awal tahun 2002 yang menggenangi sebagian wilayah DKI Jakarta walaupun tidak sehebat banjir awal tahun 2007. Banjir yang kembali terjadi disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :

o   Curah hujan yang sangat tinggi
Curah hujan pada saat banjir Jakarta pada tanggal 18 Januari 2002, disebabkan oleh curah hujan harian sebesar 105mm/hari, kemudian banjir kedua pada tanggal 30 Januari 2002 disebabkan curah hujan sebesar 143mm/hari. Sedangkan curah hujan diatas 50mm/hari patut diwaspadai. Kejadian banjir Jakarta dan sekitarnya pada tanggal 3 Februari 2007 berdasarkan data pengamatan tinggi muka air dan debit sungai Ciliwung di pos pengamatan bendungan katu lampa menunjukkan angka 250cm, sedangkan tinggi muka air melampaui angka 100cm sudah harus siaga dan curah hujan mencapai 172mm/hari. Dengan lamanya hujan dengan intensitas tinggi awal 2014 menyebabkan tanah menjadi jenuh dengan air sehingga pada saat hujan sebagian air hujan merupakan aliran permukaan. Saat bersamaan laut di pantai utara DKI Jakarta naik.

o   Karakteristik DAS (Daerah Aliran Sungai)
Daerah Alira Sungai (DAS) yang menyebabkan banjir Jakarta adalah DAS Ciliwung-Cisadane. Karakteristik DAS meliputi bentuk dari kemiringan lereng. Karakteristik DAS Ciliwung-Cisadane mempunyai bentuk daerah hulu dan tengah dengan kelerengan terjal. Sedangkan daerah tengah sampai  hilir sangat datar dan luas. Bentuk DAS seperti ini begitu hujan jatuh maka air hujan dari daerah hulu langsung mengalir kebawah dengan waktu konsentrasi yang singkat. Terlebih sepanjang aliran sungai Ciliwung, sungai yang dulunya menjadi urat nadi kehidupan warga Jakarta, kini kondisinya kian makin memprihatinkan karena persoalan sampah dan lumpur. Pada tahun 2013 aliran Ciliwung yang melintasi kawasan Jagakarsa dibersihkan, sebanyak 10,5ton sampah berhasil diangkut. Padahal wilayah yang dibersihkan sepanjang 1,5 kilometer. Hal ini akibat dari kurangnya kesadaran masyarakat yang tinggal dipinggir aliran Ciliwung dengan membuang sampah tidak pada tempatnya.

o   Saluran Drainase
Saluran drainase memiliki peran yang sangat penting sebagai jalan bagi air untuk sampai ke laut yang merupakan tujuan akhir dari air mengalir. Volume saluran drainase sungai Ciliwung khususnya daerah hilir disana-sini mengalami penyusutan yang disebabkan oleh ukuran lebarnya berkurang, terjadi pengendapan dan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa masuh berkembangnya perilaku masyarakat membuang sampah di sungai.

o   Perubahan penggunaan lahan
Banyaknya pemukiman-pemukiman masyarakat yang berada dibantaran sungai Ciliwung tidak saja membahayakan masyarakat itu sendiri bila terjadi banjir akan tetapi bisa menghambat kelancaran air. Meskipun pemerintah telah berupaya merelokasikan bagi warga yang bermukim dibantaran sungai Ciliwung, salah satunya Pembangunan Rusunawa Pasar Minggu Pejaten Timur. Walaupun belum dapat diterima oleh sebagian warga dan pedagang Pasar Minggu saat ini. Dengan alasan tidak ada pengaruh positif bagi warga sekitar, tetapi akan menambah ramai dan semerawutnya kawasan Pasar Minggu.

Referensi :
  Harian Kontras 24 Juni 2013 Hal.10
  Harian Terbit 7 Maret 2014 Hal.5-6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar